Benar, saat itu hanya keegoisan dan keangkuhan hatiku saja yang dapat merasakan dan menganggap bahwa semuanya harus diakhiri, harus berakhir.
Tanpa ku mau tahu apa yang sebenarnya ingin kau ucapkan padaku untuk berkata selamat tinggal dengan caramu itu.
Hhm.. Kalau saja waktu itu aku memiliki keberanian untuk mempertahankan keabadian cinta suci ini, mungkin akan banyak kisah kasih yang terlalu berharga untuk diabadikan dalam bentuk kenangan dan memori. Tapi, nyatanya waktu itu hanya sebuah kisah tak berkoma tak juga kutemui titiknya.
Terlintas dalam benakku tentang masa itu.. tiba-tiba suara pria disampingku menggertakku dan membuyarkan lamunanku.
"Ehh kok pipi kamu basah? Kamu nangis?" Radian mengusap airmata yang jatuh dikedua pipi gadis manisnya.
"Engga kok, aku cuma terharu kalau ingat kisah kita dulu yang harus kita lalui seperti apa. Saat aku memutuskan untuk pergi dan mengalah pada kebersamaan kisah kasih kita, saat itu seharusnya ..." Suara lirih Kalinta terpaksa dihentikan oleh sang pangeran kesiangannya itu.
"Udah dong kamu jangan sedih lagi yaa dan jangan ingat masa lalu kita lagi. Sekarang kita masih bisa bercanda bareng seperti ini tanpa ada yang melarang, tanpa ada ketakutan untuk terulang lagi masa-masa seperti dulu lagi. Kita berdua akan bertahan dan mencoba berjalan, berlari bersamaan hingga menemukan pelabuhan terakhir kita nanti kan? Tak usah ragu lagi akan kekuatan kasih kita."
Ahh rasanya mendengar Radian berbicara panjang lebar seperti itu adalah pemandangan langka yang kudapatkan, sejuk saat dia berhasil menghapus kesedihanku, merangkulku kembali dengan hangat cintanya, membisikkanku dengan kepastian yang ku tahu itu memang benar kepastian cinta kita.
Terimakasih cinta...
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar